Sejarah 'Aisyiyah Sumatera Barat
Sebelum kemerdekaan Indonesia tahun 1945, di Sumatera Barat telah ada beberapa
organisasi kemasyarakatan yang bergerak dalam dunia sosial dan pendidikan yang dilakukan
oleh kaum perempuan seperti, organisasi Bundo Kanduang, Serikat Kaum Ibu Sumatera,
Perguruan Diniyah Putri, Organisasi Kerajinan Amai Setia, dan Organisasi Aisyiyah. Salah
satu organisasi yang tetap eksis adalah Organisasi Aisyiyah, yaitu suatu organisasi yang
pertama kali didirikan oleh Nyai Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tahun 1917. Kemudian
organisasi Aisyiyah tersebut masuk dan berkembang di Minangkabau seiring dengan masuk
dan berkembangnya Muhammadiyah di Minangkabau yang didirikan oleh Haji Rosul (Haji
Abdul Karim Amrullah).
Secara de facto Aisyiyah di Sumatera Barat telah ada pergerakannya sejak tahun
1926, yaitu seiring dengan berdirinya Muhammadiyah di Minangkabau, tepatnya di Sungai
Batang pada tahun 1925. Anggota pertama dari organisasi tersebut adalah Dariah (istri dari
Haji Abdul Karim Amrullah) dan adiknya Hafsah. Kemudian sekembalinya Fatimah Abdul
Karim Amrullah (istri A.R Sutan Mansoer) dari Pekalongan tahun 1927, Aisyiyah cabang
Sungai Batang Maninjau mulai berkembang. Pada tahun 1927 Aisyiyah cabang Sungai
Batang mulai berdiri sendiri, dengan arti kata tidak lagi menjadi cabang dari Aisyiyah
Yogyakarta.
Sebelum konferensi PAD di Jogjakarta, Aisyiyah merupakan salah satu majelis
dibawah pimpinan pusat Muhammadiyah. Setelah Konferensi PAD Aisyiyah di Jogjakarta
tahun 1966, Aisyiyah resmi ditetapkan sebagai organisasi otonom oleh Pimpinan Pusat
Muhammadiyah. Meskipun demikian, secara de jure Aisyiyah sebagai organisasi
perempuan dari Muhammadiyah di Sumatera Barat berdiri pada tahun 1970 melalui
Keputusan Pimpinan Pusat Aisyiyah Jogjakarta Nomor W/A-1/013/70 tanggal 26 Februari
Kemudian Pimpinan Pusat Aisyiyah Jogjakarta mengesahkan berdirinya organisasi Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sumatera Barat berdasarkan Surat Keputusan Nomor
715/PPA/A/III/1990 tanggal 9 Sya‟ban 1410 bertepatan dengan 6 Maret 1990.
Organisasi Aisyiyah menggambarkan kiprah perempuan khususnya di Minangkabau,
Sumatera Barat. Ada beberapa kegiatan dari Organisasi Aisyiyah, mulai dari pendidikan,
kesehatan, hingga aksi-aksi perempuan di Sumatera Barat. Eksistensi organisasi yang tetap
bertahan dalam gelombang perjalanan sejarah yang dilalui Aisyiyah menarik untuk ditelusuri
lebih lanjut, karena terkait juga dengan aspek lokal daerah Sumatera Barat yang menyambut
baik organisasi ini. Bagaimana organisasi ini bertahan, dan menjawab tantangan zaman tentu
menarik untuk ditelusuri lebih lanjut.
Eksistensi Aisyiyah sebagai organisasi perempuan Muhammadiyah di Sumatera Barat
ditandai dengan dukungan dari berbagai pihak baik dari masyarakat maupun pemerintah
dalam berbagai kegiatannya. Dukungan dari masyarakat terlihat dari keterlibatan mereka
dalam kegiatan-kegiatan Aisyiyah khususnya kegiatan pengajian rutin sekali dalam tiga bulan
yang dilaksanakan secara bergantian oleh Pimpinan Daerah Aisyiyah di Sumatera Barat.
Sedangkan dukungan dari pemerintah sudah terlihat sejak tahun-tahun awal pendirian
Aisyiyah. Pada masa Orde Baru, pergerakan perempuan menerima dukungan yang besar dari
pemerintah. Pada waktu yang bersamaan, pergerakan perempuan menjadi subjek kontrol
pemerintahan secara lebih ketat atau pengawasan dekat dengan istilah lainnya. Meskipun
demikian, Organisasi Aisyiyah mendapatkan dukungan besar dari pemerintahan Orde Baru.
Sambutan baik masyarakat Sumatera Barat pada keberadaan organisasi Aisyiyah
dapat dilihat dari kultur masyarakat Minangkabau yang menganut sistem Matrilinial (garis
keturunan ibu). Sistem matrilinial ini menjunjung tinggi harkat dan martabat perempuan di
Minangkabau. Sehingga keberadaan organisasi Aisyiyah sejalan dengan sistem matrilinial
yang dianut oleh masyarakat Minangkabau, karena sama-sama memajukan dan memuliakan
kaum perempuan. Oleh karena itu, organisasi Aisyiyah berkembang dengan cukup cepat di
Sumatera Barat.
Berdasarkan Surat Keputusan Pimpinan Daerah Aisyiyah se-Sumatera Barat (SK
PDA) tahun 2016, cabang dan ranting organisasi Aisyiyah sudah tersebar di 18
Kabupaten/Kota di Sumatera Barat yaitu, Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman,
Kabupaten Padang Panjang Batipuh Sepuluh Koto, Kabupaten Agam, Kota Bukittinggi,
Kabupaten Lima Puluh Kota, Kabupaten Tanah Datar, Kota Sawahlunto, Kabupaten
Sijunjung, Kabupaten Solok, Kabupaten Pesisir Selatan, Kabupaten Pasaman Barat,
Kabupaten Pasaman, Kabupaten Dharmasraya, Kota Payakumbuh, Kabupaten Solok Selatan,
Kota Solok, dan Kota Pariaman. Bahkan sejak tahun 2017 Pimpinan Daerah Aisyiyah sudah
ada di Mentawai sebagai wilayah terluar Sumatera Barat.
Puisi Jelang Satu Abad 'Aisyiyah di Ranah Minang dapat dilihat disini
