Puisi Jelang Satu Abad ‘Aisyiyah di Ranah Minang

Oleh: Dr. Syur’aini, M. Pd

Dari rahim Muhammadiyah perempuan
Tanggal 19 Mei tahun 1917 M,
bertepatan dengan tanggal 27 Rajab tahun 1335 H
Lahirlah organisasi otonom Muhammadiyah
bernama ‘Aisyiyah dari cikal bakal
pengajian Sapa Tresna berkedudukan di Jogjakarta

Sapa Tresna adalah perkumpulan perempuan
terdidik di sekitar Kauman Yogyakarta
Yang dibina oleh K H Ahmad Dahlan
Bersama nyai Dahlan Siti Walidah

Kiyai H Ahmad Dahlan
Dengan gagah berani mendobrak budaya Belanda
Yang memingit perempuan agar di rumah saja
Sehingga tidak berdaya

Perempuan bak penjara terkunci rapat
Sementara ajaran Islam sangat akurat
Mewajibkan laki laki dan perempuan
Menuntut ilmu pengetahuan sampai akhir hayat

Al-Qur’an mengajarkan bahwa laki laki dan perempuan
Jika ia beriman dan mengerjakan amal shaleh
Sama sama mendapatkan balasan dari Allah
Yaitu kehidupan yang baik dan pahala berlipat ganda

Akankah ini dilewatkan begitu saja
Hidup tanpa memungut apa-apa
Hanya bergelimang dosa dan duka nestapa
Akhirnya perempuan masuk neraka

KH. Ahmad Dahlan
Tak ingin perempuan menanggung derita
Tanpa mendapatkan pahala
dan tak akan pernah mencium bau surga

KH. Ahmad Dahlan, KH. Fachrodin,
KH. Mochtar, Ki Bagus Hadikusumo,
Bersama 6 orang perempuan didikan KH. Ahmad Dahlan
Bermusyawarah dan bersepakat membentuk ‘Aisyiyah
Diketuai oleh Siti Bariyah

Sepuluh tahun kemudian Tepatnya Tahun 1927
Berdirilah ‘Aisyiyah di Sumatera Barat
Bertempat di Sungai Batang Maninjau
Tepat di tanah kelahiran ulama besar Prof. Dr. Hamka
Inilah tonggak sejarah ‘Aisyiyah di Ranah minang

Selangkah demi selangkah ‘Aisyiyah berjuang
Ditengah ganasnya cengkraman penjajah
Mengajak kaum perempuan
Menjadi Islam kaffah jauh dari tahayul kurafat dan bid’ah
Mempelajari Al-qur’an dan sunnah
serta mengamalkannya sebagai ibadah

Memperkokoh akidah, peduli pendidikan dan kesehatan
Tanggap bencana, memelihara anak yatim
Penegak keadilan, memperhalus peradaban
Melakukan kaderisasi agar tidak terputus generasi

Mendidik kaum perempuan mandiri dalam ekonomi
Berdiri diatas kaki sendiri tidak hanya bergantung pada suami
Akan tetapi bergandengan tangan suami dan istri
Membentuk keluarga sakinah mawaddah warahmah

Wahai ibu-ibu dan remaja putri,
Hari ini ‘Aisyiyah sudah tua renta
Tidak bisa lagi memakai terompa pesta
Dandan pun seadanya tapi masih punya amal usaha

Akankah kita terlena tanpa berbuat apa-apa
Hanya bangga menjadi organisasi perempuan tertua di Indonesia
Akankah kita masih terlelap dalam mimpi-mimpi euforia
Akankah kita masih ingin berjalan ditempat
Bahkan mundur ke belakang dan akhirnya sakharat

Tidak…., tidak.…, tidak….
Kita harus bangkit setinggi langit
Berjuang sekuat tenaga
Menggapai asa di ujung sana dengan akal, harta dan tenaga

Masih banyak pekerjaan yang belum dijamah
Masih banyak masyarakat yang belum mendapatkan haknya
Masih banyak masalah perempuan yang tersisa
Menganga menunggu uluran tangan kita

Sementara malam semakin larut
Dunia penuh carut marut
Perempuan semakin banyak dianiaya dan diperkosa
Mencuri, merampok sudah biasa saja
Korupsi terjadi dimana-dimana

Abad pertama hampir usai
Tahun 2027 ‘Aisyiyah Sumatera Barat
Genap berusia satu abad
Fajar abad kedua sudah mulai menyingsing

Akankah tertutup awan hitam kelabu
Atau fajar merah jingga akan bersinar indah
Sebagai pertanda hari akan cerah
Dan mentari bersinar terang menghangatkan kehidupan

Wahai ibu-ibu ‘Aisyiyah, mari bergegas melangkah
Tidak ada lagi waktu tersisa untuk bercengkrama
Jadilah perempuan berkemajuan, agar tercapai tujuan
Tegaknya agama Islam,
Terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya

Padang 13 Mei 2026